Submit Blog Login Last Submitted Blogs RSS Archive Contact  
Mengeja Sastra
 
 
 
Mengeja Sastra
Gerak dan Geliat Sastra Indonesia dan Polemik
Language: English
RSS Feeds for this Blog
Statistics
Unique Visitors: 0
Total Unique Visitors: 73059
Visitors Out: 1197
Total Visitors Out: 1197
 
 
Articles
Refleksi Tulisan Goenawan Mohammad “Tentang Atheisme dan Tuhan yang tak harus Ada”
2007-12-25 05:42:00
Oleh : Saiful HaqGM dan Tuhan yang Tak Harus AdaTulisan Goenawan Mohammad (GM) yang dimuat di Kompas edisi 6 Oktober 2007, seakan hujan yang yang mengguyur di tengah kering kerontangnya ide ketuhanan yang ditawarkan agama di tanah air. Lewat tulisan kali ini, GM menyentakkan kita untuk kembali melakukan refleksi, atau sekedar menyadari betapa telah jauhnya sosok Tuhan telah dikangkangi beberapa kelompok yang mengaku pembela agama di negeri ini. Sekaligus tulisan ini mengajak kita meloncat meninggalkan abad kegelapan, jaman dimana Tuhan lebih mirip sebagai simbol legitimasi atas segala tindakan politik agama, yang sesungguhnya menjauh dari Tuhan itu sendiri. Tuhan bahkan telah dipakai untuk menumpahkan darah dan saling meng-kafir-kan sesama. Kata-kata selalu ...
 
Perempuan dalam Sastra
2007-12-23 10:10:00
Sumber: Koran Sindo Mingu, Minggu, 23/12/2007Dalam kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi kaum laki-laki.Tak heran jika cara pandang bias gender pun terjadi.Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya turut memengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya. Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalismeimperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan.Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik; pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan ...
 
Mengembalikan Sastra ke Kekuatan Teks
2007-12-23 09:50:00
Secara umum, selain karya-karya sastra yang mengalami 'pembesaran' oleh media massa dan mendapatkan 'perpanjangan lidah' karena kontroversi yang dibawanya, pada tahun-tahun terakhir ini kekuatan teks sastra Indonesia memang terkesan cenderung melemah. Ada beberapa faktor yang layak dicurigai sebagai penyebabnya.Pertama, pertumbuhan kualitas sastra Indonesia, baik secara estetik maupun tematik, memang mandeg. Artinya, secara estetik maupun tematik, karya-karya sastra Indonesia, terutama puisi, cenderung stereotip sehingga sekadar menjadi media reproduksi karya-karya sebelumnya dengan sentuhan pembaruan yang tidak signifikan. Jadi, melimpahnya produksi karya sastra belum dibarengi peningkatan kualitas secara memadai. Namun, kecurigaan ini masih layak diperdebatkan, karena belum didasarkan pa...
 
Narasi Haji dalam Prosa Indonesia
2007-12-23 07:22:00
DamanhuriKE angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat...Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. "Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya." Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?...Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata "mampu" atau "sanggup"? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), yang memungut fakta sejarah seputar kisruh perhelatan haji tahun 1970 sebagai latar cerita. Sebuah novel unik dengan pilihan tematik yang juga langka: pergulatan spiritual Haji Jani...
 
Imajinasi yang Terus Bertanya
2007-12-22 07:15:00
Dalam pengantar buku Mochtar Lubis, Maut dan Cinta, disebutkan "sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah". Benar bahwa sastra bukan tulisan sejarah. Namun, kurang tepat bila dikatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.Novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis itu sendiri bisa jadi rujukan untuk memahami gejolak revolusi pascakemerdekaan. Karya sastra itu secara hidup menggambarkan aksi beberapa kelompok pejuang menembus blokade Belanda dalam rangka menukar komoditas di Sumatera dengan senjata dari Semenanjung Melayu dan Thailand untuk digunakan pasukan republiken.Figur seorang tokoh dalam novel tersebut mengingatkan kepada Mayor John Lie yang secara historis cukup dikenal reputasinya. Melalui sastra...
 
Diskusi Sastra : Lebih Mendalam dan Humanis
2007-12-22 07:09:00
Oleh : Lan Fangbayangku membusuk setelah dinginkuregukdan malam yang semakin mabukmencambuk tubuhkudengan segala ngilu. Wajahku tergoressebaris kelembutan. Aku tenggelamseperti sebongkah kesaksian yangmengiris ingatandi lorong-lorong pelabuhan. Dan ombakyang kian jantan datangdengan kesepian tak tertahanseribu mambang telah berlayarmembawa bunga-bunga api, sepertipetualang jelatangmenyadap tubuhku yang paling mawarCuplikan puisi Pelayaran Bunga karya A Muttaqin itu menjadi cover buku dokumentasi sastra Festival Cak Durasim 2007 yang dihelat dari tanggal 10-17 November 2007 di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Festival ini merupakan acara tahunan yang pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-8.Menurut Pribadi Agus Santoso, Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, festival ini merupa...
 
Monumen Sutardji Calzoum Bachri
2007-12-17 10:26:00
Maman S MahayanaKETIKA Sutardji Calzoum Bachri (SCB) memproklamasikan kredo puisinya: 'Membebaskan kata dari beban makna, menghancurkan penjajahan gramatika, dan mengembalikan kata pada awalnya, pada mantra' dan coba mengimplementasikan sikap kepenyairannya itu dalam karya, jagat sastra Indonesia–-khasnya puisi--seketika seperti dilanda kegandrungan eksperimentasi. Semangat kembali kepada tradisi dan kultur etnik--yang dirumuskan Abdul Hadi WM sebagai kembali ke akar kembali ke sumber--laksana memasuki zaman aufklarung: menyebarkan pencerahan betapa sesungguhnya Nusantara punya warisan kultur agung.Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak (1973) yang sarat mantra seperti sakelar yang mengingatkan sastrawan—penyair kepada corak keindonesiaan yang menjelma dengan semangat d...
 
Titik-Temu Sastra dan Sains
2007-12-17 09:54:00
Sumber: Koran Sindo, Minggu, 16/12/2007Sastrawan IA Richard dalam bukunya, Peotries and Science (1926) menyatakan bahwa masyarakat modern bakal mengkaji sastra secara serius layaknya kitab suci.Hal ini lantaran krisis spiritualitas dan dahaga batiniah akut yang mereka alami.Agama yang selama ini dijadikan rujukan utama, kurang mampu diterjemahkan dalam kehidupan (terlampau melangit). Sementara sains dan teknologi yang juga dipuja-puja, hanya menawarkan kesenangan materialis-hedonis—yang jelas tidak mengobati derita batin tersebut. Pada situasi kritis ini, sastra menjelma dan menjembatani keduanya (agama dan sains). Dengan unsur estetis, filosofis, dan imajinatifnya, sastra layaknya oase di tengah gurun pasir yang gersang dan tandus.Sastra dengan unsur imajinatifnya, ternyata juga memberi...
 
FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi
2007-12-15 10:37:00
Topik MulyanaSESEORANG yang berada di sebuah menara, apalagi menara gading, akan melihat segala sesuatu di bawahnya dengan lebih leluasa. Ia dapat melihatnya dari sudut ke sudut, dari titik ke titik, dalam waktu singkat. Akibatnya, ia akan memiliki pandangan-pandangan idealistis untuk melihat segala sesuatu yang berada di bawahnya.Pun demikian dengan dunia kesusastraan.Kaum elite sastra yang bersemayam di menara gading kesusastraan sering kali mengangankan terciptanya karya adiluhung, dengan segala keruwetan jalinan peranti linguistik dan ketebalan lapisan-lapisan makna, yang dibaca masyarakat luas sehingga terciptalah semacam kehidupan intelek dan "berbudaya".Ketika ada karya yang dinilainya rendah tengah booming di pasaran, mereka merasa cita-cita idealistisnya terganggu. Mereka pun hany...
 
Kebangkitan Arab: Dalam Kedigdayaan Sastra
2007-12-15 10:28:00
Zacky Khairul Uman*Sihir sejarahmu senjakala sudahKubur wajah rendah diri itu, kubur warisan tolol itu...Aku mampu mengubah:tambang peradaban-inilah namaku(Adonis, Waqt bayn al-Ramâd wa al-Ward, 2004:12)PADA mulanya adalah kekalahan. Pada Juni 1967, hujan peluru membanjiri Perang Enam Hari dunia Arab melawan Israel. Inilah perang yang menentukan segalanya. Nasionalisme kerakyatan yang kemudian masyhur dengan Nasserisme, akibat pengaruh Gamal Abdel Nasser, yang sempat membikin gairah kebangkitan bangsa Arab era 1950-an hingga 1960-an, bertekuk lutut menderai air mata.Pasca-1967 adalah petanda krisis mentalitas Arab. Mulailah, ramai diperbincangkan revitalisasi "tradisi".Yang tradisionalis memaksa untuk kembali ke otentisitas Islam sebagai warisan utama Arab. Yang neomodernis berupaya mendi...
 
FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi
2007-12-15 06:33:00
SESEORANG yang berada di sebuah menara, apalagi menara gading, akan melihat segala sesuatu di bawahnya dengan lebih leluasa. Ia dapat melihatnya dari sudut ke sudut, dari titik ke titik, dalam waktu singkat. Akibatnya, ia akan memiliki pandangan-pandangan idealistis untuk melihat segala sesuatu yang berada di bawahnya.Pun demikian dengan dunia kesusastraan.Kaum elite sastra yang bersemayam di menara gading kesusastraan sering kali mengangankan terciptanya karya adiluhung, dengan segala keruwetan jalinan peranti linguistik dan ketebalan lapisan-lapisan makna, yang dibaca masyarakat luas sehingga terciptalah semacam kehidupan intelek dan "berbudaya".Ketika ada karya yang dinilainya rendah tengah booming di pasaran, mereka merasa cita-cita idealistisnya terganggu. Mereka pun hanya bisa nyinyi...
 
Sutardji Bebaskan Diri dalam Berbahasa
2007-12-11 10:39:00
Jakarta, Kompas - Sutardji Calzoum Bachri menerima penghargaan Akademi Jakarta atas pencapaian dan pengabdiannya dalam bidang sastra. Pemberian penghargaan bagi seniman dan budayawan ini berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (10/12).Menurut ketua tim penilai, Remy Sylado, kecerdasaan Sutardji untuk membebaskan diri dalam berbahasa merupakan alasan bagi tim penilai untuk memilihnya. Kebebasan berbahasa itu membuat Sutardji menjadi penyair yang mampu menunjukkan gaya bersastra atau isyarat baru dalam sejarah seni kontemporer Indonesia.Dalam karya-karyanya, Sutardji sering menggunakan kata-kata yang tidak bermakna leksikal. Misalnya, sajak berjudul "Tragedi Winka dan Sihka", Sutardji menuliskan kata-kata tanpa arti leksikal dengan mengutak-atik kata "kawin" dan "kas...
 
Narasi `Penyair Gila` Arsyad Indradi
2007-12-10 10:47:00
SudaryonoKEGILAAN kreatif, kreativitas adalah kegilaan. Dengan kreativitas, kegilaan penciptaan dimungkinkan. Dengan kegilaan pula dapat dikecap capaian-capaian artistik sebuah sajak. Penyair memang terkadang seperti orang 'gila'. Artinya, di tengah-tengah masyarakatnya penyair acap tampil anomaly, menyendiri, mengasingkan diri dari interaksi massif, dan secara personal menampilkan sosok yang sering nyleneh, aneh, dan sulit diphami.Penampilan seperti itu, bisa jadi merasuki sosok puisi yang diciptakannya sehingga acap pula puisi yang diciptakannya menjadi sulit dipahami. Hal seperti itu tidak ditemukan pada puisi-puisi penyair dari Banjarbaru, Arsyad Indradi, yang menyedot perhatian untuk digumuli.Kegilaan Arsyad Indradi dalam mengeksploitasi dan mengekplorasi seggenap inderanya dalam menc...
 
Kritik Sastra Indonesia Masih Lesu
2007-12-10 10:43:00
KRITIK sastra belum menampakkan gejala yang menggembirakan, ia masih menjadi barang langka. Jika pun tumbuh, ia hanya menjadi kegiatan akademis yang sangat terbatas jangkauannya. Padahal sastra Indonesia menunjukkan perkembangan yang menarik dalam beberapa tahun terakhir."Penerbitan buku-buku sastra mencapai taraf kesuburan yang lebih jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Penulis-penulis sastra terbaru hadir susul-menyusul. Pelbagai komunitas sastra juga bertumbuhan, baik dalam penciptaan atau apresiasi," ungkap Ketua Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Zen Hae saat membuka acara Malam Anugerah Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, baru-baru ini.Zen mengatakan, menulis kritik sa...
 
Sastra yang Utamakan Seks Masuk Aliran Viagra
2007-12-10 10:41:00
[JAKARTA] Karya sastra yang hanya mengedepankan sensasi dan pornografi oleh Budayawan, Rendra dimasukkan dalam kelompok aliran viagra. Untuk karya sastra dengan aliran viagra tak diperlukan Undang-Undang Porno atau yang dulu dikenal dengan nama Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP), tapi harus diatasi dengan moral.Keberadaan Undang-Undang Porno, kata penyair yang akrab disapa Willy ini, hanya akan menunjukkan kelemahan iman masyarakat Indonesia. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat juga dinilai mengada-ada jika memaksakan pengesahan undang-undang tersebut."Sebab masalah porno kok diatur dalam undang-undang yang ada malah akan membuat hukum menjadi tidak jelas, ujung-ujungnya nanti yang dipakai ada...
 
Kidung Kasih Romo Mudji
2007-12-09 03:50:00
Arswendo AtmowilotoPada mulanya, puisi diciptakan dengan niatan dan diakhiri dalam tulisan. Kemudian, menemukan kelahirannya kembali ketika dibacakan. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sosiawan Leak, adalah jawara-jawara yang memesona.Puisi yang diciptakan, atau karya penyair lain,menemukan makna baru panggung sastra. Mereka yang sudah membaca dan sudah hafal pun, seperti menemukan “puisi baru.”Begitu juga ketika puisi itu dimusikalisasikan. Puisi liris indah menyentuh Sapardi Djoko Damono membuktikan ini.Tanpa menunggu jarak waktu penerbitan,Muji Sutrisno meluncurkan puisi juga album berjudul Rekah Lembah(Hutan Kabisat, Jakarta, 2007).Di dalamnya ada beberapa sketsa (dituliskan “sketza”, mungkin karena kasihan pada huruf z yang jarang kita gunakan dalam bahasa Indonesia), yang juga...
 
Saman Mampir ke Paris
2007-12-09 03:46:00
Ayu UtamiPengarang telah mati,kata Roland Barthes. Itu tidak benar. Sebab jika ada uang, penerbit selalu ingin mengundang pengarang untuk menjelaskan buku mereka. Penerbit saya di Prancis punya uang.Maka itu tibalah saya di Paris. Dekorasi kota gemerlap menyambut musim Natal. Berlatar langit malam, Menara Eiffel menyala keemasan dengan berintik putih kelap-kelip. Hujan turun seperti serpih-serpih.Ini saat yang lumayan baik untuk memperkenalkan novel di Prancis.Musim dingin orang terpaksa membaca. Jangan meluncurkan buku,apalagi yang rumit,menjelang musim panas. Seorang pengarang, seperti saya, mungkin menulis tanpa berpikir bagaimana cerita pada gilirannya akan jadi komoditas—yaitu ketika ia diterbitkan oleh sebuah bisnis penerbitan yang mengeluarkan moda...
 
Lagu Puisi, Musik dari Sanubari
2007-12-09 03:32:00
Putu Fajar Arcana dan Frans SartonoMengapa jika puisi kita dinyanyikan cenderung berkesan sendu dan bahkan seperti mencerminkan dunia yang suram? Pertanyaan itu sebetulnya tidak diperuntukkan pada musik sebagai bahasa pembentuk nyanyian, tetapi mempersoalkan kecenderungan puisi-puisi modern kita yang dipenuhi kemurungan di sana-sini. Setelah era Rendra dan kemudian Sutardji Calzoum Bachri tahun 1970-an sampai 1980-an, dimulai dari Sapardi Djoko Damono puisi-puisi yang lahir dari para penyair, seperti tak henti mendedahkan kemurungan.Terakhir pada Kamis (6/12), cendekiawan dan penyair Mudji Sutrisno meluncurkan kumpulan puisi berjudul Rekah Lembah di Galeri Nasional Jakarta. Peluncuran itu dilengkapi dengan musikalisasi puisi yang menampilkan penyanyi-penyany...
 
Bisikan Sastra Perang…
2007-12-09 03:26:00
Binhad NurrohmatWatak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n’aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): "Kebenaran adalah korban pertama dalam perang."Pada berbagai zaman, perang gampang menggerakkan manusia menyelenggarakan kekerasan untuk penghancuran dan penaklukan. Perang merupakan bentuk tragedi primitif yang kerap mencabik-cabik riwayat umat manusia sejak mula hingga masa kininya. Tak mengejutkan bila ilham ...
 
Sastra dan Peradaban: Penghargaan Akademi Jakarta 2007 untuk Sutardji C Bachri
2007-12-08 03:43:00
Jakarta, Kompas - Setelah sebelumnya mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, kini giliran Akademi Jakarta yang menetapkan penyair Sutardji Calzoum Bachri sebagai penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2007. Tahun ini, Akademi Jakarta juga memberi penghormatan kepada Ali Sadikin dalam kapasitasnya sebagai "Pemancang Tonggak Peradaban dan Martabat Bangsa"."Penyerahan penghargaan dijadwalkan berlangsung hari Senin (10/12) pukul 10.00 di Teater Kecil (Studio), Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM)," kata Maman S Mahayana, dari Humas Akademi Jakarta (AJ), kemarin.Menurut Maman, Sutardji terpilih sebagai penerima penghargaan tahun ini setelah melalui pemilihan atas sejumlah nama yang patut diperhitungkan. Penghargaan itu sendiri diberik...
 
Sastra (wan) Selalu Bersuara
2007-12-02 20:57:00
-- Asef Umar Fakhruddin*SEJAK orang menemukan bahasa, tandas Jacob Soemardjo (1997), ternyata mereka menyukai sastra, menyukai pengalaman-pengalaman fiktif dan tokoh-tokoh fiktif,dan menyukai alunan bahasa yang berirama.Dengan kemampuan itu, hidup lantas dijalani tanpa membosankan.Waktu pun berlalu terasa cepat dan menyenangkan.Hidup menjadi segar kembali dan orang boleh bekerja kembali, mencari nafkahnya sehari-hari, setelah berlibur.Kesenian dan kesusastraan khususnya diakui kepentingannya dalam kehidupan oleh bangsa-bangsa primitif yang buta huruf maupun oleh kaum intelektual.Orangorang desa, misalnya, mau menonton pertunjukan wayang semalam suntuk. Untuk apa? Hiburan saja? Sastra tidak hanya memberikan kegembiraan hidup, tetapi juga pemahaman manusia dan dunia secara lebih baik.Sastra ...
 
ANGGOTA KOMUNITAS SASTRA : KEBERAGAMAN, KETAKLOYALAN, DAN TALENT COOTER
2007-12-02 20:08:00
Oleh Iwan GunadiJurnal Nasional, Minggu, 02 Des 2007Kalau istilah “komunitas” dipahami sebagai masyarakat, kelompok, atau kumpulan orang, asosiasi logis yang segera muncul di kepala kita adalah jumlah anggotanya lebih dari satu orang. Asosiasi tersebut hampir sepenuhnya tepat, terkecuali untuk Forum Sepatu Biru yang digagas penyair Afrizal Malna di Jakarta pada 1990-an. Kalau Forum Sepatu Biru dianggap secara serius sebagai komunitas sastra, asosiasi itu mesti dikoreksi karena anggota komunitas sastra tersebut hanya Afrizal seorang. Tapi, tampaknya, kehadiran Forum Sepatu Biru lebih untuk menyindir maraknya pertumbuhan komunitas sastra pada saat itu dan mudahnya seseorang atau beberapa orang membentuk komunitas sastra untuk melegitimasi kesatrawanannya.Yang pasti, jumlah anggota setiap...
 
Makalah Goenawan Mohamad di Rumah Dunia: DARI KATA
2007-11-28 19:39:00
Oleh Goenawan Mohamad-- Untuk pertemuan di Rumah Dunia, 27 Nopember 2007Saya akan mulai percakapan ini dengan mengutip sebuah sajak Subagio Sastrowardojo:Asal mula adalah kataJagat tersusun dari kataDi balik itu hanyaruang kosong dan angin pagiSeorang penyair – tapi tak cuma seorang penyair -- akan mengenal keniscayaan kata: praktis, hanya melalui bahasa-lah kita bisa menangkap dunia. Bahkan “ruang kosong dan angin pagi” yang ada di balik jagat yang “tersusun dar kata” tak hanya kita kenali karena mata kita melihat ruang itu dan kulit kita tersentuh oleh desau angin itu. “Ruang kosong dan angin pagi” kita kenali karena kata telah menamai benda ini atau itu, menyebut perasaan ini atau itu. Dengan kata itulah, atau lebih tepat dengan kata sebaga...
 
Asahan Aidit: Sastra Tak Bisa Dihambat Rasa Iri Hati
2007-11-27 14:02:00
PADA usia 69, ia masih terlihat sehat dan segar. Suhu dingin menusuk tulang di pengujung musim gugur tak menghambatnya menyambut ramah Tempo di tepi jalan. Asahan Aidit kemudian mengajak menyusuri lekuk liku kompleks tempat tinggalnya di Hoofddorp, daerah pinggiran Schiphol, Belanda.Rumah petak bertingkat yang dihuninya tipikal rumah-rumah pinggiran kota. Di sanalah ia menetap sejak 1984. Istrinya, Sen--seorang perempuan Vietnam--sedang ke luar rumah. Detak jam tua di atas lemari terdengar seperti waktu yang terus mendesak.Banyak sudah peristiwa yang dilalui pria kelahiran Tanjung Pandan, Belitung, 4 Desember 1938, ini. Sebagai anggota PKI dan adik Dipa Nusantara Aidit, dia tertahan di negeri jauh, dimusuhi banyak orang, dan beberapa kali terpaksa mengganti nama.Semua luka itu belum kering...
 
Sastra: Generasi Penentu
2007-11-25 18:52:00
Radhar Panca Dahana*BEBERAPA saat sebelum sebuah panel diskusi antara saya dengan Prof Fuad Hasan yang membicarakan “pengaruh eksistensialisme dalam puisi-puisi Sitor Situmorang”, sang penyelenggara acara, Mohamad Sobary, yang saat itu masih menjabat Direktur Kantor Berita Antara, mengundang kami bertiga ke ruang kerjanya.Saya datang lebih dulu dan langsung memamah biak. Beberapa menit kemudian, datanglah sang profesor diikuti satu gadis remaja. Obrolan hangat tercipta, hingga sang profesor akhirnya mengeluarkan sebuah “keluhan”, yakni menyesalkan sang cucu—yang dibawanya serta—sangat mengenal tokoh-tokoh sastra dunia, dari Homerus hingga James Joyce, tapi ternyata tidak tahu sama sekali siapa itu Sitor SitumorangUntuk itu, ia mengajaknya ikut diskusi untuk berkenalan dengan sa...
 
Demokrasi dan Moralitas dalam Sastra Seksual
2007-11-25 18:46:00
Budi P Hatees Esais, pengajar dan penelitiBenarkah Mahadewa Mahadewi, Saman, Jendela-Jedela, Tuan dan Nyonya Kosong, Jangan Panggil Aku Monyet, dan buku-buku lain yang senafas, mengandung spirit pembebasan karena ia bicara soal indentitas seksual, sesuatu yang digadang-gadang banyak orang?Kalau pertanyaan itu kita ajukan kepada Niels Mulder, penulis Southeast Asian Images: Towar Civil Society (2003), pastilah ia akan setuju sembari membeberkan tafsirnya atas teks Saman karya Ayu Utami. Bagi Mulder, Saman mengandung spirit pembebasan, melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap nilai-nilai warisan Negara Orde Baru.Membandingkan Saman dengan karya sastra yang ditulis sastrawan perempuan di Thailand (Sucinda Khantayalongkot) dan Filipina (Lualhati Bautista), Mulder mengatakan ketiga perem...
 
Pustaka: Penerbitan Sastra Tidak Bisa Andalkan Balai Pustaka
2007-11-21 19:25:00
[JAKARTA] Pertumbuhan karya sastra Indonesia yang menggairahkan belakangan ini, tidak bisa mengandalkan Penerbit Balai Pustaka. Padahal lembaga ini seharusnya melestarikan karya sastra Indonesia dan menerbitkan karya-karya yang konstruktif. Balai Pustaka justru banting stir menerbitkan buku komersial.Hal ini diungkapkan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) Ibnu Wahyudi dalam Seminar Internasional Kesusastraan Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa di Hotel Acacia Jakarta, Senin (19/11). Menurut Ibnu, kehidupan sastra Indonesia yang menggeliat di hampir satu dekade belakangan ini tidak didukung oleh lembaga terkait.Penerbitan sastra, dikatakan Ibnu, dewasa ini tidak lagi mampu mengandalkan Balai Pustaka. Nafas penerbitan tertua dari zaman kolonial Belanda tersebu...
 
Sastrawan Perlu Keleluasaan Berkarya, Hindari Pengaruh Penguasa
2007-11-21 19:23:00
*Pengembangan Sastra Indonesia Masih Terhambat[JAKARTA] Hubungan negara, pemerintah dan karya sastra masih menjadi perdebatan panjang. Sekalipun peran dan dukungan negara diperlukan, kecenderungan penguasa untuk mengendalikan sastrawan harus dipatahkan. Keleluasaan mungkin dapat memberi peluang kemunculan karya-karya besar.Demikian pendapat Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Prof Dr Sapardi Djoko Damono yang dilontarkan dalam Seminar Internasional Kesastraan bertema "Sastra dan Negara" di Jakarta, yang berlangsung 19-20 November 2007.Menurut Sapardi, peranan negara atau penguasa dalam membantu perkembangan kesusasteraan adalah dengan memberikan keleluasaan bagi sastra-wan untuk berkarya. Keleluasaan itu diharapkan akan bisa membuka peluang kemunculan karya-karya sastra y...
 
Wacana: 'Sastra Kelamin' dalam Ideologi 'Sastra Pizza'
2007-11-19 19:27:00
Amien Wangsitalaja*POLEMIK tentang 'sastra kelamin' (dalam tanda kutip) sebetulnya sudah mengemuka pada awal era 2000-an. Namun, polemik tersebut sekarang mengemuka lagi. Polemik di media cetak setidaknya tersaji di dua media cetak nasional, Republika dan Jawa Pos. Rerata polemik mengaitkannya dengan persoalan moralitas versus kebebasan kreatif dan kemudian ada yang menggiringnya ke persoalan agama.Mungkinkah ada sisi lain dari fenomena gelontoran karya-karya sastra yang mengusung wacana kebebasan dengan modus operandi berupa eksplorasi tema seks tersebut? Ataukah jangan-jangan yang terjadi sebetulnya bukanlah pertarungan segi moral (ideologi spiritual), tetapi pertarungan segi lain yang kental berkaitan dengan persoalan suprastruktural (ideologi material)?Saya tiba-tiba teringat kepada se...
 
W.S. Rendra: Maqam Mereka Masih Viagra
2007-11-13 19:12:00
Penyair besar berjuluk Burung Merak itu memasuki usia 72 tahun. Suaranya tak lagi selalu menggelegar, tapi karismanya masih membayang. Ketika berbicara, kutipan ayat suci kerap mengalir dengan pengucapan puitis dari mulutnya.Beberapa teman lama dan kerabat menyambanginya pada hari ulang tahun, Rabu pekan lalu, untuk mengucap tahniah. Sehari-hari Rendra kini menyibukkan diri dengan membaca teks sejarah--kegiatan yang sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai bacaan ia lahap tanpa batas, mulai dari asal mula buah-buahan dan tanaman pangan yang sekarang lazim ditemui di Indonesia sampai periode kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Nusantara.Seniman yang kenyang masuk tahanan di masa Orde Lama dan Orde Baru itu tak lagi terlalu produktif berteater. Pentas teater terakhirn...
 
Membumikan Kembali Ide Sastra Kontekstual
2007-11-12 18:45:00
Dad MurniahDosen, peneliti dan kepala Subbid Informasi dan Publikasi Pusat BahasaIngatkah Anda dengan gagasan sastra kontekstual yang dilontarkan Arief Budiman? Arief memang dikenal dengan pandangan-pandangannya yang sangat kritis. Ia tidak hanya menggugat universalitas sosiologi dan ekonomi-politik, tapi juga sastra. Terhadap sastra universal yang dianut oleh para sastrawan utama sampai 1980-an, ia memperkenalkan sastra kontekstual, yang ia gelorakan dalam berbagai diskusi.Bagi Arief, sastra yang baik bukanlah sastra yang indah, tapi sastra yang berarti. Yang indah adalah sesuatu yang bersifat inderawi, sedangkan yang berarti memiliki makna mendalam lebih dari sekadar kesan ragawi. Sementara itu, cita-rasa dan budaya manusia sangat beragam, yang bisa sangat berbeda dari satu daerah dengan...
 
Teks Puisi, Teks Kehidupan
2007-11-03 19:08:00
Umbu Landu Paranggi, mantan Presiden Malioboro yang kini menetap di Bali , yang hampir seluruh hidupnya dibaktikan untuk puisi, pernah berujar: kehidupan adalah puisi dan puisi adalah kehidupan itu sendiri. Saya rasa Umbu benar untuk hal itu. Begitu rupa ia mencintai puisi. Begitu dalam pula puisi mencintainya. Umbu adalah puisi itu sendiri, ia adalah teks jua.Puisi adalah sebuah teks besar. Dan kehidupan juga adalah sebuah teks besar. Keduanya berkelindan dalam kepala setiap pembaca teks. Tentu pembacaan itu melahirkan tafsir yang beragam, sesuai dengan ketelitian dan kekuatan pembacaan. Tidak ada tafsir tunggal. Setiap pembaca sah menafsirkan teks, menafsirkan puisi atau kehidupan. Dan dengan penafsiran itu pula ia menjalani apa yang diyakininya.Dari setiap penafsiran itu pula puisi mene...
 
Mencari Titik Temu antara Sastra dan Agama
2007-10-29 18:42:00
Asef Umar Fakhruddin Peneliti pada Centre for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan KalijagaMembincangkan relasi antara sastra dan agama memang selalu menarik. Tidak jarang menyeruak pula perdebatan sengit terkait kedua entitas ini. Perdebatan sengit antara "dua kubu" aliran sastra (kubu Taufiq Islamil dkk dengan kubu Hudan Hidayat dkk) beberapa waktu yang lalu dan bahkan sampai sekarang, jika dirunut, juga berujung pada di mana sebenarnya posisi sastra dan agama dalam kehidupan.Pada hakikatnya, agama maupun sastra, bermuara pada rasa atau jiwa. Agama, misalnya, meskipun juga membahas dan menyodorkan pusparagam hukum-hukum formal, juga mengetengahkan kajian-kajian kritis tentang jiwa. Bagaimana seyogyanya manusia melakukan pembersihan terhadap hati atau jiwa pemeluknya, merupakan s...
 
Politik Kanonisasi Sastra
2007-10-18 18:53:00
oleh Saut SitumorangDalam sebuah tulisan di Media Indonesia Minggu beberapa waktu lalu yang, konon, dimaksudkannya sebagai "tanggapan" atas esei saya tentang relasi antara karya sastra dan politik ekstra-literer sastra, seorang Hudan Hidayat membuat sebuah klaim bahwa sebenarnya tidak ada hubungan pengaruh-mempengaru hi antara "keberhasilan" sebuah karya sastra dengan faktor-faktor ekstra-literer di luar teks karya dimaksud. Bagi Hudan, hanya ada satu hal saja yang menentukan baik-tidaknya, berhasil-tidaknya, sebuah karya sastra, yaitu apa yang dinamakannya sebagai "substansi" sastra karya itu sendiri. Ironisnya, Hudan sendiri kayaknya tidak menganggap "substansi" sastra yang dijagokannya itu cukup penting nilainya ternyata sehingga dia lupa untuk menjela...
 
Goenawan Mohamad: Itu Hanya Corat-Coret di Tembok Kakus!
2007-10-09 06:56:00
Wawancara Goenawan Mohamad di Jurnal Nasional (7/10/07) Goenawan Mohamad adalah orang barat yang lahir di Batang, demikian julukan yang pernah diberikan kepadanya oleh Hamid Basyaib. Bagaimana pemikirannya tentang dinamika kesusasteraan Indonesia saat ini: tentang serangan sekelompok sastrawan pada dirinya dan Komunitas Utan Kayu yang ia dirikan? Bagaimana pula ia memaknai perdebatan sastra yang pernah terjadi dulu dan sekarang? Pendiri majalah TEMPO itu menuturkan pemikiran dan pengalamannya pada Jurnal Nasional di sela-sela kesibukannya di Komunitas Utan Kayu dua pekan lalu.Tanya: Mas Goen, kini jagat sastra Indonesia diramaikan dengan adanya polemik antara Sastrawan Ode Kampung yang menyerang Komunitas Utan Kayu (KUK) sebagai salah satu pegiat aktivitas kesenian di Jakarta. Apa tangga...
 
Penyair dan Alquran dalam Rekaman Sejarah
2007-10-07 17:47:00
Aguk Irawan MNPeneliti, alumnus Al-AzharPenyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu'ara, 24-27)Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai 'penyaing' keulungan sastra Jahily.Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sas...
 
Ritus Mudik dan Sastra Transkultur
2007-10-06 18:43:00
Oleh: Mohamad Ali HisyamTak ada karnaval budaya apa pun yang rasanya lebih semarak dan masif dibandingkan kebiasaan masyarakat Indonesia mudik lebaran ke kampung halaman.Tradisi mudik sudah menjadi ritus tahunan yang menjelma sebagai perayaan keagamaan,sekaligus euforia sosial yang menguras banyak belanja kapital serta energi kemanusiaan. Secara sosiologis,mudik merupakan ajang tamasya budaya dan dalam berbagai sisi memunculkan sirkulasi tata kehidupan.Dalam pelbagai bentuknya, migrasi besar-besaran yang ditimbulkan akibat mudik,selalu melahirkan dilema dan problema sosial yang silang sengkarut. Kebiasaan guna rehat dari kesibukan keseharian bagi orang-orang kota dengan cara menikmati nuansa kampung halaman,amat membantu mereka mempersegar (refreshing) etos kerja.Walaupun tak dapat pula di...
 
Festival Penulis Tanpa Penulis
2007-10-06 18:38:00
Eka KurniawanDalam buku esai terbarunya, The Curtain, Milan Kundera menyinggung perihal sastra dunia (atau dalam istilah Goethe, Die Weltliteratur) dengan mengatakan: "Tidak, percayalah, tak akan ada yang mengenal Kafka saat ini—tak seorang pun—jika ia tetap menjadi seorang Ceko."Konteks pernyataannya tersebut adalah meski Franz Kafka seorang Yahudi dan menulis serta tinggal di Ceko, pada kenyataannya Kafka dikenal sebagai penulis Jerman. Menurut Kundera, hanya karena menulis dalam bahasa Jerman dan kemudian diperkenalkan sebagai penulis Jerman, Kafka bisa kita kenal sekarang ini.Saya membaca buku esai itu di tengah-tengah acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang baru saja berakhir, 25-30 September 2007 di Ubud, Bali. Datang sebagai seor...
 
Memahami Global dengan "Lidah" Lokal
2007-10-06 18:35:00
Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2007Ubud Writers and Readers Festival masih dianggap penting. Karena itu, festival yang digelar setiap tahun pada September itu perlu dipertahankan. Alasannya, festival yang digagas Yayasan Saraswati dan melibatkan tak kurang 80 penulis dunia itu, sebagai festival berskala internasional. Pujian dari Harper’s Bazaar sebagai "satu dari enam festival literatur terbaik di dunia" bisa menjadi ukuran festival ini dijadikan pintu bagi para penulis Indonesia untuk go international.Demikian kesimpulan dari diskusi kecil di sela-sela Ubud Writers and Readers Festival yang berlangsung 25-30 September 2007 bersama HIVOS di Toko-Toko Ubud, Jumat (28/9). Hadir dalam diskusi untuk memberikan masukan bagi panitia di tahun mendatang, antara lain Finlencia da...
 
Grusa-grusu Politik Sastra Pasca-Marxisme
2007-10-03 16:45:00
Oleh: Nurani Soyomukti, esais dan pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (KOTEKA).Peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) bukan hanya dapat diingat sebagai tonggak perubahan politik, tetapi juga tonggak perubahan kebudayaan, khususnya kesusastraan. Bagaimana tidak, lepas dari keterlibatannya dalam kudeta politik PKI (meskipun masih controversial) atau tidak, sebuah lembaga organisasi kebudayaan yang cukup besar danberperan dalam mendinamisasikan politik massa dan menjadikan kegiatan seni-sastra begitu dekat dengan massa rakyat, telah (di)hancur(kan).Organisasi atau lembaga kebudayaan itu bernama Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat. Lekra banyak disebut sebagai bagian Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang kemudian dibubarkan dan jutaan anggotanya...
 
 
 
 
eXTReMe Tracker