 |
 |
|
|
| |
| |
| |
|
Statistics |
| Unique Visitors: 0 |
| Total Unique Visitors: 73059 |
| Visitors Out: 836 |
| Total Visitors Out: 6547 |
|
|
|
| |
|
|
| |
|
| Refleksi Tulisan Goenawan Mohammad “Tentang Atheisme dan Tuhan yang tak harus Ada” |
| 2007-12-25 05:42:00 |
Oleh : Saiful HaqGM dan Tuhan yang Tak Harus AdaTulisan Goenawan Mohammad (GM) yang dimuat di Kompas edisi 6 Oktober 2007, seakan hujan yang yang mengguyur di tengah kering kerontangnya ide ketuhanan yang ditawarkan agama di tanah air. Lewat tulisan kali ini, GM menyentakkan kita untuk kembali melakukan refleksi, atau sekedar menyadari betapa telah jauhnya sosok Tuhan telah dikangkangi beberapa kelompok yang mengaku pembela agama di negeri ini. Sekaligus tulisan ini mengajak kita meloncat meninggalkan abad kegelapan, jaman dimana Tuhan lebih mirip sebagai simbol legitimasi atas segala tindakan politik agama, yang sesungguhnya menjauh dari Tuhan itu sendiri. Tuhan bahkan telah dipakai untuk menumpahkan darah dan saling meng-kafir-kan sesama. Kata-kata selalu membatasi makna, untuk itu salut...
|
| |
|
| Perempuan dalam Sastra |
| 2007-12-23 10:10:00 |
Sumber: Koran Sindo Mingu, Minggu, 23/12/2007Dalam kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi kaum laki-laki.Tak heran jika cara pandang bias gender pun terjadi.Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya turut memengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya. Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalismeimperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan.Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik; pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan ...
|
| |
|
| Mengembalikan Sastra ke Kekuatan Teks |
| 2007-12-23 09:50:00 |
Secara umum, selain karya-karya sastra yang mengalami 'pembesaran' oleh media massa dan mendapatkan 'perpanjangan lidah' karena kontroversi yang dibawanya, pada tahun-tahun terakhir ini kekuatan teks sastra Indonesia memang terkesan cenderung melemah. Ada beberapa faktor yang layak dicurigai sebagai penyebabnya.Pertama, pertumbuhan kualitas sastra Indonesia, baik secara estetik maupun tematik, memang mandeg. Artinya, secara estetik maupun tematik, karya-karya sastra Indonesia, terutama puisi, cenderung stereotip sehingga sekadar menjadi media reproduksi karya-karya sebelumnya dengan sentuhan pembaruan yang tidak signifikan. Jadi, melimpahnya produksi karya sastra belum dibarengi peningkatan kualitas secara memadai. Namun, kecurigaan ini masih layak diperdebatkan, karena belum didasarkan pa...
|
| |
|
| Narasi Haji dalam Prosa Indonesia |
| 2007-12-23 07:22:00 |
DamanhuriKE angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat...Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. "Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya." Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?...Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata "mampu" atau "sanggup"? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), yang memungut fakta sejarah seputar kisruh perhelatan haji tahun 1970 sebagai latar cerita. Sebuah novel unik dengan pilihan tematik yang juga langka: pergulatan spiritual Haji Jani...
|
| |
|
| Imajinasi yang Terus Bertanya |
| 2007-12-22 07:15:00 |
Dalam pengantar buku Mochtar Lubis, Maut dan Cinta, disebutkan "sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah". Benar bahwa sastra bukan tulisan sejarah. Namun, kurang tepat bila dikatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.Novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis itu sendiri bisa jadi rujukan untuk memahami gejolak revolusi pascakemerdekaan. Karya sastra itu secara hidup menggambarkan aksi beberapa kelompok pejuang menembus blokade Belanda dalam rangka menukar komoditas di Sumatera dengan senjata dari Semenanjung Melayu dan Thailand untuk digunakan pasukan republiken.Figur seorang tokoh dalam novel tersebut mengingatkan kepada Mayor John Lie yang secara historis cukup dikenal reputasinya. Melalui sastra kita juga dapat mengetahui seja...
|
| |
|
| Diskusi Sastra : Lebih Mendalam dan Humanis |
| 2007-12-22 07:09:00 |
Oleh : Lan Fangbayangku membusuk setelah dinginkuregukdan malam yang semakin mabukmencambuk tubuhkudengan segala ngilu. Wajahku tergoressebaris kelembutan. Aku tenggelamseperti sebongkah kesaksian yangmengiris ingatandi lorong-lorong pelabuhan. Dan ombakyang kian jantan datangdengan kesepian tak tertahanseribu mambang telah berlayarmembawa bunga-bunga api, sepertipetualang jelatangmenyadap tubuhku yang paling mawarCuplikan puisi Pelayaran Bunga karya A Muttaqin itu menjadi cover buku dokumentasi sastra Festival Cak Durasim 2007 yang dihelat dari tanggal 10-17 November 2007 di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Festival ini merupakan acara tahunan yang pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-8.Menurut Pribadi Agus Santoso, Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, festival ini merupa...
|
| |
|
| Monumen Sutardji Calzoum Bachri |
| 2007-12-17 10:26:00 |
Maman S MahayanaKETIKA Sutardji Calzoum Bachri (SCB) memproklamasikan kredo puisinya: 'Membebaskan kata dari beban makna, menghancurkan penjajahan gramatika, dan mengembalikan kata pada awalnya, pada mantra' dan coba mengimplementasikan sikap kepenyairannya itu dalam karya, jagat sastra Indonesia–-khasnya puisi--seketika seperti dilanda kegandrungan eksperimentasi. Semangat kembali kepada tradisi dan kultur etnik--yang dirumuskan Abdul Hadi WM sebagai kembali ke akar kembali ke sumber--laksana memasuki zaman aufklarung: menyebarkan pencerahan betapa sesungguhnya Nusantara punya warisan kultur agung.Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak (1973) yang sarat mantra seperti sakelar yang mengingatkan sastrawan—penyair kepada corak keindonesiaan yang menjelma dengan semangat d...
|
| |
|
| Titik-Temu Sastra dan Sains |
| 2007-12-17 09:54:00 |
Sumber: Koran Sindo, Minggu, 16/12/2007Sastrawan IA Richard dalam bukunya, Peotries and Science (1926) menyatakan bahwa masyarakat modern bakal mengkaji sastra secara serius layaknya kitab suci.Hal ini lantaran krisis spiritualitas dan dahaga batiniah akut yang mereka alami.Agama yang selama ini dijadikan rujukan utama, kurang mampu diterjemahkan dalam kehidupan (terlampau melangit). Sementara sains dan teknologi yang juga dipuja-puja, hanya menawarkan kesenangan materialis-hedonis—yang jelas tidak mengobati derita batin tersebut. Pada situasi kritis ini, sastra menjelma dan menjembatani keduanya (agama dan sains). Dengan unsur estetis, filosofis, dan imajinatifnya, sastra layaknya oase di tengah gurun pasir yang gersang dan tandus.Sastra dengan unsur imajinatifnya, ternyata juga memberi...
|
| |
|
| FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi |
| 2007-12-15 10:37:00 |
Topik MulyanaSESEORANG yang berada di sebuah menara, apalagi menara gading, akan melihat segala sesuatu di bawahnya dengan lebih leluasa. Ia dapat melihatnya dari sudut ke sudut, dari titik ke titik, dalam waktu singkat. Akibatnya, ia akan memiliki pandangan-pandangan idealistis untuk melihat segala sesuatu yang berada di bawahnya.Pun demikian dengan dunia kesusastraan.Kaum elite sastra yang bersemayam di menara gading kesusastraan sering kali mengangankan terciptanya karya adiluhung, dengan segala keruwetan jalinan peranti linguistik dan ketebalan lapisan-lapisan makna, yang dibaca masyarakat luas sehingga terciptalah semacam kehidupan intelek dan "berbudaya".Ketika ada karya yang dinilainya rendah tengah booming di pasaran, mereka merasa cita-cita idealistisnya terganggu. Mereka pun hany...
|
| |
|
| Kebangkitan Arab: Dalam Kedigdayaan Sastra |
| 2007-12-15 10:28:00 |
Zacky Khairul Uman*Sihir sejarahmu senjakala sudahKubur wajah rendah diri itu, kubur warisan tolol itu...Aku mampu mengubah:tambang peradaban-inilah namaku(Adonis, Waqt bayn al-Ramâd wa al-Ward, 2004:12)PADA mulanya adalah kekalahan. Pada Juni 1967, hujan peluru membanjiri Perang Enam Hari dunia Arab melawan Israel. Inilah perang yang menentukan segalanya. Nasionalisme kerakyatan yang kemudian masyhur dengan Nasserisme, akibat pengaruh Gamal Abdel Nasser, yang sempat membikin gairah kebangkitan bangsa Arab era 1950-an hingga 1960-an, bertekuk lutut menderai air mata.Pasca-1967 adalah petanda krisis mentalitas Arab. Mulailah, ramai diperbincangkan revitalisasi "tradisi".Yang tradisionalis memaksa untuk kembali ke otentisitas Islam sebagai warisan utama Arab. Yang neomodernis berupaya mendi...
|
| |
|
| |
 |
|
| |
| |
|
 |